Minhajut Tholibin, Pegangan Ulama’ Syafi’iyyah

Wednesday, February 3rd 2016. | Kitabah

Minhaj

Nama kitab : Minhajut Tholibin wa Umdat al Muftin fi Fiqh Madzhab al-Imam al Syafi’i

Pengarang   : Imam Nawawi

Penerbit      : Darul Kutub al-Ilmiyyah. Beirut

Tebal          : 224

Peresensi    : Muslimin Syairozi

Pengarang kitab Minhajut Tholibin adalah Imam Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi. Beliau dikenal dengan nama Imam Nawawi, karena lahir di Desa Nawa, Damaskus. Beliau adalah guru besar sekaligus juru fatwa abad ke-6 Hijriyyah.

Imam Nawawi mashur sebagai ulama yang umurnya penuh dengan berkah. Beliau merupakan ulama produktif, di mana karangannya tak sebanding dengan umurnya yang terbilang pendek. Umur beliau hanya empat puluh lima tahun, namun dalam rentan waktu tersebut, beliau mampu mengarang puluhan bahkan ratusan kitab besar.

Kehidupan beliau hanya berkutat pada mengaji, menulis, dan beribadah kepada Allah  Swt. Pada usia sepuluh tahun, saat teman-teman sejawatnya asyik dengan bermain, beliau justru menyibukkan diri menghafal al-Qur’an. Beliau juga gemar menulis. Kegemaran ini dalam perjalanannya menghasilkan banyak kitab yang menjadi bahan rujukan banyak ulama selepasnya. Tak mengherankan dalam muqaddimah kitabnya, beliau menuturkan bahwa menyibukkan diri dengan ilmu merupakan wujud ketaatan paling utama dan apresiasi paling tepat dalam memanfaatkan waktu yang berharga. Produktifitas beliau di antaranya bisa dilihat bahwa saat beliau wafat, masih ada beberapa kitab yang belum dirampungkan. Di antaranya at-Tahqiq yang pembahasannya baru sampai pada bab shalat musafir.

Minhajut Tholibin merupakan penjelas kitab Muharrar karangan Imam Rofi’I, ringkasan kitab Wajiz Imam Ghozali. Tidak diragukan lagi, kitab ini sambung dengan kitab al-Umm yang merupakan kumpulan pendapat shahibu al-madzhab, Imam Syafi’i.

Pengarang mengakui bahwa kitab Muharrar adalah kitab yang sempurna dan mencakup banyak sekali faidah. Melihat ketebalan kitab tersebut, terasa sangat sulit menghafalkannya. Inilah yang mendorong beliau untuk meringkasnya sehingga menjadi lebih praktis. Dalam kitabnya ini, beliau mengutarakan pembahasan dengan bahasa ringkas serta menambahkan kaedah-kaedah fiqih yang tidak terdapat dalam kitab Muharrar. Beliau juga mencantumkan pendapat Imam syafi’i dan murid-muridnya yang di-tarjih dan tidak.

Kitab ini merupakan kitab mu’tamad yang banyak menjadi rujukan para mabahits masail. Banyak kitab besar yang menukil pendapat Imam nawawi dari kitab ini. Minhajut Tholibin bisa dikatakan yang paling utama dalam menentukan suatu masalah. Hal ini di antaranya berdasar pada kedudukan sang muallif sendiri. Beliau adalah seorang mufti yang pendapatnya paling diunggulkan oleh kalangan ulama’ muta’akhirin. Sesuai keputusan para ulama, terlepas dari maslahah, pendapat yang dipilih dalam menentukan hukum adalah pendapat Imam Syaikhain (Imam Nawawi dan Imam Rofi’i). Jika terjadi perbedaan, maka yang dipilih adalah pendapat Imam Nawawi. Baru kemudian pendapat Imam Rofi’i serta pendapat yang didukung oleh mayoritas ulama’.

Puluhan ulama’ telah mensyarahi kitab Minhajut Tholibin. Hal ini membuktikan, kitab ini adalah kitab yang agung. Di antara para ulama’ tersebut yaitu Ibnu Hajar al-Haitami dengan kitab Tuhfah Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, Imam Romly dengan Nihayatul Muhtaj ila syarh al-Minhaj, dan Imam khatib Syarbany dengan Mughni al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj.

Pendapat mereka dalam kitab-kitab tersebut menjadi pendapat yang dipilih. Artinya, jika muncul perbedaan antara Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Romly, dan Imam Katib Syarbany, maka pendapat yang diunggulkan adalah pendapat yang mereka kemukakan pada kitab-kitab di atas.

 

tags: , , , , , , ,

Related For Minhajut Tholibin, Pegangan Ulama’ Syafi’iyyah