Dialog Kematian

Friday, January 8th 2016. | Cerpen

664xauto-ilmuwan-ini-buktikan-ada-kehidupan-setelah-kematian-140922b

 Dialog Kematian

* Muhamad Ardiansha EL Zhemary

 

Aku masih duduk tenang di antara dua mahluk berbadan besar yang sembari tadi tampak sibuk dengan argument masing-masing. Pandangan mataku yang sayu, sembari tadi masih tertuju ke salah satu mahluk dengan ciri-cirinya yang membuat aku ngeri, kulitnya hitam legam, dengan bulu mata tebal, mirip manusia, tetapi aneh, ukuran tubuhnya tinggi dan besar, nafasnya terdengar sangar, kadang naik kadang turun seiring perdebatan dengan salah satu mahluk yang tampan, wajahnya putih bersih, hidungnya bangir, sorot bola matanya bening kebiruan, benar-benar sempurna, jauh berbeda dengan lawan bicaranya, Si Hitam.

“ Bagaimana ?” Si Hitam bertanya kaku kepada Si Tampan. Si Tampan hanya tersenyum simpul, lalu mengangguk, aku menatap keduanya heran.  Si Tampan masih saja tersenyum, membuat aku terkesima dengan ketampanan wajahnya, begitu bercahaya dan  sempurna.

“ Apakah seperti ini wajah nabi Yusuf dulu?” gumamku kagum.

“ Ehm…Kita ambil keputusan aja dulu ?” balas si Tampan, si Hitam segera berdiri. Lalu menatap ke arahku.

“ Ada apa dengan si Hitam dan si Tampan? Apa yang akan mereka lakukan padaku kali ini ?” hatiku diliputi tanda tanya yang terus melebur bersama ketakutan.

Si Tampan dan Si Hitam, aku memberi nama mereka berdua si Tampan dan si Hitam, karena perbandingan kulit mereka. Si Tampan dengan suaranya yang tenang dan lembut, membuat semua terasa tenang, sedangkan si Hitam, suaranya terdengar kasar dan sangar, serak basah, dan terkadang terdengar menakutkan, bahkan aku sembari tadi diam karena ada ketakutan saat si Hitam menatap bola mataku tajam, menghujam cepat hingga menghadirkan sejuta ketakutan dalam hatiku yang masih diliputi berbagai tanya.

Dimana aku sekarang ? Bukankah sembari tadi aku tengah naik motor menuju masjid untuk melaksanakan shalat jum’at, lalu kenapa aku di sini ? Di tempat serba gelap, dengan bau aneh yang belum pernah aku temukan selama hidupku, bau serta suasana aneh, bukan ketakutan, sedih atau duka, tapi bukan juga kehampaan, semua seperti serpihan aneh yang menderu berbagi dalam sekeliling.

“ Hai manusia !” suara si Hitam menggelegar memantul dari kegelapan yang sembari tadi menyelubung. Aku kembali bergeming dalam kediaman dan ketakutan yang terus melebur bersama kegelisahan.

“ Manusia….Siapa ? Aku ! Kalau aku manusia…. Siapa mereka ? Apa mereka Jin, Setan, atau mereka Malaikat, di mana aku ?  Apa aku sudah mati…………..Ya Allah masih adakah pintu tobat di kala ini..” aku masih tertunduk, pikiranku masih terus bergelut dengan kemungkinan-kemungkinan yang sama sekali tak kuharapkan.

“ Ayo jawab! “ si Hitam membentakku penuh emosi. Aku semakin terpekur takut.

“ Yang sabar..!” si Tampan membelaku, aku mengulas senyum untuk si Tampan, tapi tetap saja, aku masih tertunduk, terlalu takut untuk memandang dua mahluk aneh di depanku.

“ Sabar….Dia calon penghuni neraka ?” Si Hitam berteriak keras, lalu tertawa, suaranya yang keras menggelegar. Bulu kudukku merinding saat mendengar neraka di sebut, sebuah tempat yang tak satu orangpun yang ingin menjamahnya.

“ Neraka….Kamu salah saudaraku, dia adalah golonganku….Dia akan menjadi penghuni surga….” jawab si Tampan seraya memandangku yang masih tertunduk, sesekali aku mencuri pandang ke arah si Tampan, kutatap wajah teduh itu lekat, ada ketenangan di setiap guratan-guratan wajah yang tampak jernih itu.

“ Oke sekarang kita buktikan…Dia golongan kamu atau golongan aku ?’ si Hitam tampak tidak bisa terima. Seketika si Hitam berdiri lalu memukul sesuatu di depannya, entah apa itu ? Yang jelas bukan meja, tapi hanya balok Hitam bulat yang keras, sehingga sesaat setelah benda itu beradu dengan tangan si Hitam, ada getaran aneh, lebih tepat besi beradu dengan besi, aku sempat ngeri, membayangkan betapa kuatnya tangan si Hitam.

“ Hai tangan ayo kita buktikan ?” si Tampan memberi komando, entah kepada siapa ? Aku sempat heran, tapi rasa keherananku semakin menjadi dan lengkap, saat tanpa kesadaran tangan kananku bergerak sendiri, lalu mengucapkan salam, aku menjadi gugup. Aku teringat ucapan Ustad Afandi saat pengajian jum’at lusa, besok di hari akhir semua akan menjadi saksi, termasuk seluruh aggota tubuh kita.

“ Ya Allah ampuni hamba…”

Aku semakin tertunduk, mendengarkan kesaksian dari tanganku yang terus berbicara sendiri, aku heran, entah dari mana suara itu keluar, yang jelas itu suara dari tangan kananku yang terus menceritakan kehidupanku selama 18 tahun ini, tentang kebaikan dan juga keburukan, tiada satupun yang terlewat, aku semakin kalut, air mata tertahan untuk menetes, dadaku terasa sesak, ada getir dan sesal yang menyeruak.

“ Demikian kesaksian dari saya ?” tangan kananku mengakhiri ceritanya, aku bersyukur, ternyata lebih banyak kebaikan yang aku lakukan daripada keburukan.

“ Selanjutnya ?” si Tampan kembali memberi komando, rasa heranku kembali menjadi, saat tangan kiriku kembali bangkit, lalu berccerita, aku mengelus dada perih, saat ternyata amal burukku lebih banyak. Aku semakin resah, kemanakah arah tujuanku sekarang ? Kemana ? Apakah aku akan berakhir ke neraka ? “ Ya Allah ampuni hamba ?” aku terus berdoa dalam hati, walaupun aku tahu, doa atau apapun yang aku harapkan semua sia-sia. Ya …Aku sudah mati, dan ini adalah akhir.

“Maaf……!” aku mulai memberanikan bicara.  Seketika si Hitam dan si Tampan langsung menatapku tajam.” Apakah kalian Malaikat ?” lanjutku bertanya kaku penuh ketakutan.

Seketika kedua saling pandang, lalu tersenyum mengiyakan. Aku terkesiap dalam ketidakpercayaan yang tak berujung, “Jadi benar aku telah mati.”

“ Ya…Kami malaikat…., dan hari ini kami akan menghisab semua amalmu…? jika amal kebaikan kamu lebih banyak daripada amal buruk kamu….Maka kamu akan masuh surga, dan sebaliknya ?” mendengar penjelasan si Tampan, aku kalut semua akan berakhir tragis.

“ Baik kita lanjutkan!” si Hitam kembali mengomando. Sampai akhirnya semua anggota tubuhku memberi kesaksian, mata, mulut, telinga, hidung, semuanya. Aku hanya bisa diam, tidak bisa berontak ataupun protes seperti saat masih di sekolah, aku tak bisa, semua yang mereka katakan adalah fakta, fakta yang terlupakan olehku, mulai dari aku lahir sampai akhir ini, aku mendesah dalam kebimbangan.

“ Sudah….Dapat diputuskan dia masuk neraka ?” si Hitam tersenyum penuh kemenangan.

“ Tunggu dulu…Kita masih belum mendengar kesaksian semut Hitam yang di tabraknya lusa ?” si Tampan kembali membelaku, menampakkan betapa lembut sikap dan tingkah lakunya, jauh berbeda dengan si Hitam.

“ Baik….Tapi aku yakin, semut itu akan menyatakan apa yang dialami, dan pemuda ini akan masuk bersamaku, ke neraka ?”

“ Iya..”

Selang beberapa menit, datanglah seekor semut Hitam, ukurannya besar, sebesar lenganku. Semut Hitam itu menatapku tajam, seperti tengah tersenyum padaku.

“ Tidak…..Pemuda ini adalah hamba yang saleh..Dia menabrakku karena dia ingin menyelamatkan nyawa nenek yang sewaktu itu menyebrang tanpa hati-hati…”

Aku bersyukur, ternyata semut Hitam itu membelaku. Aku tersenyum, lalu kujabat tangan semut Hitam itu, dan sebelum semut Hitam itu pergi dia berpesan padaku.” Tolong jaga keluargaku, karena setelah aku pergi….Aku belum memberi mereka nafkah…”

Insya Allah !” balasku heran, bagaimana aku bisa menjaga keluarganya yang masih hidup ? Bukankah aku sendiri juga sudah mati, sama seperti dirinya ?

“ Baiklah kamu bebas….” Ujar si Tampan dan si Hitam serempak. Seketika Hitam yang sembari tadi menyelubung berganti cahaya Tampan yang menyibak memenuhi sekujur pandangan mataku, lalu berganti merah, ada nyeri di kepalaku.

“ Mas ayo sadar …!” seseorang mengangkatku pelan.

“ Dia sadar..” ada orang lagi yang berteriak, aku semakin heran, kemana si Tampan dan si Hitam? Kemana mereka ? Lalu di mana semut Hitam itu ?

“ Pak dimana aku ?’ aku bertanya lirih seraya menahan nyeri di kepalaku, kukerjapkan mata yang terasa berat, ada darah yang menetes perlahan dari dahi dan hidungku.

“ Mas habis saja menabrak pohon karena menghindari nenek tua yang menyebrang .” jawab pak tua itu. Aku tersenyum.

“Lalu di mana keluarga semut Hitam yang aku tabrak ?”

“Semut ?” semua yang mengangkat tubuhku saling pandang, sampai akhirnya aku tak sadarkan diri tanpa jawaban dari mereka, tentu mereka heran dengan apa yang aku tanyakan tentang keluarga semut Hitam.

Hari terus berlalu….Sejak itu aku selalu mendatangi tempat di mana aku merasakan dekat dengan kematian, setiap hari aku selalu memberi roti manis untuk keluarga semut yang berada di bawah pohon tempat aku kecelakaan. Aku tersenyum saat melihat mereka bergerombol rukun mengangkat roti, aku seperti mendengar sejuta ucapan terima kasih dan doa dari para semut itu.

“ Tidak kalianlah yang lebih berharga dalam hidupku..Kalianlah yang mengajarkan aku tentang arti hidup?” Ujarkau lirih, berharap para semut itu mendengar kata-kata yang aku lontaran untuk mereka.

Aku berdiri, memandang langit biru, semoga dialog kematian yang telah aku alami akan menjadi sesuatu yang membuat aku lebih baik, dan untuk semua yang belum pernah menemukannya. Dialog kematian.

 

*Penulis novel “ Air Mata Nayla” dan “Dreamy Angel” – Santri PonPes Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur.

 

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For Dialog Kematian