Cerita Kayu Surga; Berziarah ke Makam Habib Ibrahim al-Habsyi

Friday, December 18th 2015. | Jalan-jalan, Ziarah

makam habib ibrahim

Perjalanan dari rumah menuju makam kami tempuh selama 8 jam. Dengan menaiki mobil, kami disuguhi pemandangan rumah adat Kalimantan Selatan yang khas dan berdiri di atas sungai. Ada juga sebagian yang didirikan diatas rawa. Bahkan ada suatu tempat yang kami tempuh kurang lebih selama 2 jam, di mana di semua penjuru mata memandang, yang terlihat hanyalah rawa. Di samping kiri jalan, banyak sekali rumah yang didirikan oleh penduduk sekitar.

Sebelum mengunjungi makam, kami singgah di rumah seorang saudara yang tinggal di sana dengan maksud melemaskan otot dan melepas lelah, karena hampir seharian berada di perjalanan. Setelah dirasa cukup, dengan naik sepeda motor kami langsung menuju Makam Habib Ibrahim al-Habsyi. Penduduk setempat bisa dibilang sudah sangat banyak. Profesi utama mereka yaitu pedagang. Dalam berdagang, biasanya mereka tidak hanya menempuh melalui jalur darat, tapi juga jalur sungai. Sejak dulu, Kalimantan Selatan terkenal dengan Pasar Apungnya.

Setelah melewati beberapa gang dan jembatan, akhirnya kami sampai juga di Makam Habib Ibrahim. Sebelumnya, kami sengaja sowan terlebih dahulu kepada Habib Umar, salah satu dzurriyah beliau yang rumahnya berada di dekat makam. Dalam kesempatan itu, kami mendapat banyak cerita Habib Ibrahim yang sangat menakjubkan.

 

Murid Shohibul Maulid Simtu ad-Durar

Habib Ibrahim dilahirkan di Siwun, Hadramaut dari keluarga ahlu al-bait yang mempunyai pengetahuan sangat luas. Beliau hijrah ke Indonesia karena perintah dari sang guru, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, Shohibul Maulid. Pertama kali datang ke Indonesia, beliau singgah di Ampel, Surabaya. Beliau pernah menetap di Banjarmasin dan Martapura, hingga akhirnya menetap di Negara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Habib Ibrahim termasuk orang yang paling dicintai Habib Ali. Bahkan, demi menyembunyikan kecintaan itu dari murid-muridnya yang lain, Habib Ali menyuruh muridnya tersebut menjadi peniup seruling. Ketika suatu hari Habib Ibrahim diajak oleh Habib Muhammad bin Hadi as-Seggaf Sewon untuk berkunjung kerumah Habib Ali, Habib Muhammad tidak berani mengetuk pintu rumah Habib Ali.

Habib Ibrahim lantas mengetuk rumah Habib Ali dan langsung dibuka sendiri oleh pemilik rumah. Tatkala melihat Habib Ibrahim, Habib Ali langsung memeluk Habib Ibrahim dan memberikan pujian, “Aku berada di langit yang tertinggi. Dilangit yang ketujuh aku memenuhi panggilanmu wahai Ibrahim”. Melihat peristiwa ini, Habib Muhammad sangat terkejut. Orang yang selama ini dikenal sebagai peniup seruling, ternyata mempunyai kedudukan terhormat di sisi Habib Ali.

 

Mendapat Kayu Surga

Ada kejadian menarik ketika Masjid Jami’ sedang dibangun. Sebenarnya Masjid Jami’ direncanakan akan dibangun di Desa Tambak Bitin, namun karena suatu kejadian, akhirnya dibangun di Desa Sungai Mandala.

Latar belakang perpindahan ini sangat mengherankan. Suatu hari muncul angin ribut yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Angin ribut itu menerbangkan puncak masjid Jami’ yang ada di Desa Tambak Bitin ke Desa Sungai Mandala. Puncak Masjid itu kemudian dikembalikan lagi tempatnya semula. Anehnya, ketika sudah dikembalikan, angin ribut kembali menerbangkan puncak Masjid ke Desa Sungai Mandala. Tiga kali puncak Masjid itu dikembalikan dan tiga kali pula puncak Masjid itu ditebangkan angin ke Desa Sungai Mandala. Akhirnya, Habib Ibrahim dan seluruh warga sekitar bersepakat untuk membangun dan memindahkan Masjid tersebut ke Desa Sungai Mandala.

Pembangunan masjid membutuhkan kayu yang besar dan tinggi untuk tiang. Masyarakat berbondong-bondong mencarinya, namun tidak berhasil menemukan. Kejadian ini dilaporkan kepada Habib Ibrahim al-Habsyi. Mendengar keluhan masyarakat, beliau melaksanakan shalat 2 rakaat dan memberitahukan besok jam 11 akan datang kayu yang besar dan tinggi. Keesokan harinya, apa yang dikatakan sang habib terbukti, ada 4 balok kayu terhanyut di sungai.

Untuk menaikkan kayu berukuran besar tersebut, tidak seorangpun mampu melakukannya. Namun, atas izin Allah, Habib Ibrahim mengikat kayu itu dan naik dengan sendirinya. Kejadian serupa terjadi tatkala beliau mendirikan tiang. Habib Ibrahim menyuruh masyarakat untuk mencarikan kayu gaharu, namun tidak seorang pun yang menemukannya. Kemudian Habib Ibrahim mengumpulkan sisa potongan kayu kecil dan dimasukkan kedalam perapian. Dari perapian itu tercium aroma kayu gaharu. Setelah itu, beliau membetulkan tiang tersebut dengan tangan beliau sendiri.

Hingga detik ini, kayu itu masih bertahan. 1 tiang berada disamping makam beliau, dan 3 lainnya berada di dalam Masjid Jami’. Semuanya dilapisi kaca, kecuali yang berada di dalam masjid. Seseorang masih bisa menyentuhnya jika naik ke lantai atas. Di sana ia bisa mencium aroma wangi kayu tersebut. Sebab keistimewaan inilah, masyarakat menduga kayu itu turun dari surga.

 

Pena dan Kepergian Beliau

       Habib Ibrahim telah mengabdikan dirinya bagi masyarakat, agar mereka mampu meraih kehidupan yang lebih baik. Menjelang wafatnya, beliau pulang ke Hadramaut untuk menghabiskan sisa usia. Di sanalah beliau ingin dimakamkan.

Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Tanpa sengaja beliau membawa pena yang manjadi hak milik panitia pembangunan Masjid. Jadilah beliau kembali pulang ke Indonesia demi mengembalikan pena tersebut. Sesaat setelah kedatangan beliau dari Hadramaut, beliau pulang ke-rahmatullah pada hari Jum’at, 14 Shafar 1354 H dan dimakamkan di Jalan Sungai Mandala, Kecamatan Daha Utara.

 

Berpindahnya Tiang Surga

Setelah dirasa cukup, kami memohon diri untuk pamit. Sebelum beranjak pulang, tentu kami berziarah terlebih dahulu di makam beliau yang letaknya bersebelahan dengan rumah Habib Umar. Ketika pertamakali masuk, kami melihat ada tiang yang di kelilingi oleh pagar besi disamping makam. Tepat di tengah tiang tesebut, terdapat sebuah kertas yang menerangkan tentang peletakan tiang itu di samping makam.

Di kertas tersebut diterangkan bahwa tiang ulin (sebutan untuk kayu besi) yang berdiri di sana merupakan bukti sejarah atas berdirinya Masjid Jami’ Ibrahim. Tiang ini bernama Tiang Guru yang dulunya didirikan tepat ditengah Masjid. Ketika Masjid itu direnovasi untuk yang ke-3 kalinya, tiang itu dipotong bagian atasnya dan oleh masyarakat sekitar dipindah ke samping makam. Kejadian itu terjadi pada tanggal 17 Oktober 2014 M.

 

Makam di Atas Sungai

       Salah satu alasan kenapa beliau tidak ingin dikubur di Indonesia adalah karena desa tempat beliau tinggal sangatlah basah, dikarenakan bersebelahan dengan sungai. Oleh karena itulah, masyarakat sekitar membangun makam beliau dengan kondisi agak lebih tinggi dibanding bangunan lainnya.

Makam beliau berada di sebelah sungai dan dibangun sebuah bangunan kecil persegi empat agar peziarah bisa berdo’a dengan tenang. Di depan bangunan terdapat foto besar beliau dengan hiasan bunga. Kami masuk ke dalam ruangan tersebut serta memberi hadiah Surat al-Fatihah kepada beliau.

Tak lama kemudian, kami memutuskan untuk pulang. Dengan menaiki motor, kami kembali disuguhi pemandangan Kalimantan Selatan dengan segala keindahannya. Kami sungguh-sungguh menikmatinya.

[Ichsan/Thahir]

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Cerita Kayu Surga; Berziarah ke Makam Habib Ibrahim al-Habsyi