Aya Sofia: Akulturasi Budaya Turki  

Saturday, February 14th 2015. | Cakrawala
Penulis berada di salah satu jalur masuk menuju bangunan Aya Sofia

Penulis berada di salah satu jalur masuk menuju bangunan Aya Sofia

Memasuki hari kedua di Istanbul, Turki, kami dan segenap rombongan berangkat dari Istana Topkapi menuju sebuah bangunan megah nan anggun yang menjadi salah satu landmark kota Istanbul, yakni Aya Sofia atau Hagia Sophia yang berarti “Kebijaksanaan Suci”. Untuk masuk ke area dalam, kami harus mengeluarkan 20 lira sebagai ganti tiket. Bagi yang ingin berkunjung, kami ingatkan untuk berangkat lebih pagi untuk menghindari antrean panjang.

Bangunan ini merupakan kebanggaan masyarakat muslim di Istanbul, Turki. Keindahan arsitektur dan interiornya begitu mengagumkan mata pengunjung. Tampak dari luar, pengunjung disuguhi ukuran kubah yang begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya 30 meter, tinggi dan fundamennya 54 meter. Ketika memasuki area bangunan, pengunjung dibuai oleh keindahan interior yang dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran.

Aya Sofia menjadi warisan penting dunia yang sudah berusia sekitar lima abad. Di sinilah simbol pertarungan budaya antara Islam dan Kristern, termasuk nilai-nilai sekuler pascaruntuhnya kekhalifahan Turki Utsmani. Sebelum menjadi museum, dulunya bangunan ini adalah sebuah masjid. Dan sebelum berubah fungsi menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia.

Kemegahan arsitektur bagian dalam

Kemegahan arsitektur bagian dalam

Gereja Hagia Sophia

Sebagai ibu kota imperium terbesar pada masanya, Konstantinopel (sekarang Istanbul) menjadi kota yang paling sibuk dengan aktivitas dagangnya. Dengan kekuasannya, Kaisar Justinianus (penguasa Byzantium) banyak membangun gereja atau katedral. Dan yang paling mewah adalah Hagia Sophia sebagai Holy Wisdom Church.

Dengan sentuan arsitek bernama Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus, Hagia Sophia menjelma sebagai simbol puncak ketinggian arsitektur bansa Byzantium. Oleh keduanya, konsep kubah dalam arsitektur Islam dikombinasikan dengan bentuk bangunan gereja yang memanjang. Dalam rentang waktu 6 tahun (537 M), gereja tiga tingkat selesai dibuat. Berhias emas, bertahtakan permata pada dindingnya, bertata ratusan lukisan mozaik dan hasil karya seni lainnya membuat pengunjung bak dihujani bintang-bintang.

Bangunan gereja ini sempat hancur beberapa kali karena gempa, dan dibangun lagi. Pada 7 Mei 558 M, di masa Kaisar Justinianus, kubah sebelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986 M, pada masa pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025), kembali terkena gempa. Akhirnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar tak terkena gempa di awal abad ke-14. Hagia Sophia berfungsi sebagai gereja selama rentang waktu 916 tahun, hampir seribu tahun lamanya.

 

Aya Sofia tampak dari luar, perpaduan asiektur Islam dan Eropa Timur

Aya Sofia tampak dari luar, perpaduan asiektur Islam dan Eropa Timur

Masjid Aya Sofia

   Runtuhnya Konstantinopel pada 27 Mei 1453 M. di tangan tentara Islam di bawah pimpinan Sultan Mehmet II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama Muhammad al-Fatih membawa angin segar bagi umat muslim dunia.

Setelah berhasil menaklukkan kota besar itu, Al-Fatih turun dari kudanya untuk bersujud syukur. Kemudian beliau pergi menuju Gereja Hagia Sophia. Saat itu juga, bangunan gereja Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid kota dengan nama Aya Sofia. Dan seketika itu pula suara adzan menggema di langit Konstantinopel.

Sepanjang kekhalifahan Turki Usmani, beberapa renovasi dilakukan agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid tanpa mengubah bentuk arsitekturnya. Kubah yang menjulang ke atas tetap dibiarkan dan dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara ini, antara lain, dibangun pada masa Muhammad al-Fatih di bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun lagi menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun dua buah menara.

Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian yang masih bercirikan gereja. Termasuk mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan asli dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan. Begitu pula patung-patung dan lukisan-lukisannya disingkirkan atau ditutupi cat.

Setelah penaklukan ini, Konstantinopel berubah nama menjadi Istanbul (Kota Islam). Sang Sultan membangun Istanbul dan mengembalikannya sebagai pusat peradaban sekaligus kota termegah di dunia. Keberlangsungan Aya Sofia menjadi tempat ibadah umat muslim berlangsung selama 482 tahun, hampir lima ratus tahun lamanya.

 

Mihrab dan mimbar di dalam bangunan Aya Sofia yang masih terawat dengan baik hingga saat ini

Mihrab dan mimbar di dalam bangunan Aya Sofia yang masih terawat dengan baik hingga saat ini

Museum Aya Sofia

Setelah kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada tahun 1935, Negara Turki berubah sistem menjadi Negara Republik di bawah pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk. Penguasa Turki dari kelompok muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk salat, dan mengalihfungsikannya menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam memang ada yang dibiarkan seperti tulisan kaligrafi Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw, serta para sahabat. Masih dijumpai juga tempat untuk adzan, mimbar berikut tempat imam, tempat air seperti gentong dari marmer untuk berwudhu.

Namun, beberapa simbol atau lukisan beraroma Kristen justru kembali ditampakkan sebagaimana yang kami lihat. Seperti di langit-langit bangunan yang terdapat ilustrasi gambar nabi Isa, Bunda Maria dan malaikat bersayap. Di lantai dua, banyak terpampang lukisan simbol-simbol agama Kristen seperti lukisan Kaisar Constantine dan istrinya yang mengapit bunda Maria.

Hingga saat ini, bangunan Aya Sofia dijadikan salah satu destinasi terdepan untuk menarik minat para turis. Dan menurut kabar dari teman-teman yang berada di Turki, bahwa presiden Turki sekarang, Erdoğan berencana mengembalikan Aya Sofia sebagai masjid, semoga.

 Oleh: Ali Fathomi

*) Penulis adalah santri Langitan yang sedang menempuh pendidikannya

di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Aya Sofia: Akulturasi Budaya Turki