Mengenal Hakikat Islam, Iman, dan Ihsan; (Ceramah Habib Umar bin Hafidz di Langitan)

Tuesday, February 3rd 2015. | Pemikiran

Al habib Umar bin Salim bin Hafidz

Segala puji atas semua nikmat yang demikian agung dari Allah, Untuk mempererat hubungan kita dengan-       Nya dan Rasulullah yang paling mulia. Hubungan erat tersebut kembali melalui keluarga beliau, dan penerus beliau yang mulia. Dan itulah yang menjadi bekal yang tidak ada habisnya untuk menuju akhirat.

Kemuliaan yang akan kita bicarakan ini adalah pembeda antara yang haq dan yang batil dan antara kesesatan dan hidayah. Karena ini merupakan sebuah kekhususan perbedaan yang tidak ada didalam yang haq dan batil . Apa yang mereka (orang sesat) perjuangkan tidak akan berguna didunia mau pun akhirat. Mereka terkadang mengaku-ngaku dengan pengakuan yang tidak benar dengan menunjukkan bahwa mereka memberikan kebaikan dan menganggap bahwa mereka dapat memberi manfaat didalam hal-hal yang akan sirna.

 

Hubungan Spesial Ummat Muhammad

Di dalam akal orang yang telah diberikan cahaya oleh Allah SWT., mereka meninggalkan kerajaan duniawi setelah dia mampu menguasainya.Walau pun dia dapat menguasainya selama 1000 tahun, 2000 tahun atau 3000 tahun, dia tinggalkan itu semua untuk mengambil imbalan yang lebih baik berupa kerajaan yang abadi disisi Allah SWT. Ia merupakan orang sukses dan beruntung. Karenanya kita bersyukur kepada Allah karena memiliki hubungan yang mulia ini.

Ini merupakan keagungan karena selalu terhubung dengan Allah SWT. yang maha agung, abadi, mulia, dan hidup. Dan tidak ada seseorang yang dapat meraihnya, kecuali dia mendapat anugerah Allah yang dia dapatkan melalui nabi dan rasul.

Sungguh, sebuah penyesalan bagi orang-orang dari umat yang mulia ini, namun ia rela mengganti peneladanan. Dia buang itu semua dan mengikuti kepada orang-orang yang sesat, jahat, fasiq. Ia ridlo kepada kemungkaran, kepada pemikiran orang yang sesat, roidlo oleh hiasan duniawi, sehingga ia rela sunnahnya Rasulullah SAW. berkurang didalam dirinya, keluarganya, rumahnya, lingkungannya, dan didalam semuanya.

Kitalah yang memiliki peran untuk menyelamatkan mereka dan orang-orang yang berada di belakang mereka, yaitu orang-orang yang belum pernah beriman sebelumnya. Dan inilah pokok dan hakikat dari risalah yang diinginkan hingga sampai kepada kita. Ini adalah risalah dari Allah, yang dipikul oleh nabi Muhammad SAW.

Habib Umar Bin Salim al Hafidz

Konsep Hakikat Islam

Orang yang telah mencapai hakikat dari pada rukun- rukun agama, hati mereka penuh dengan kasih sayang, ta’dzim terhadap Allah, dan kepedulian terhadap sesama hamba Allah. Merupakan sesuatu yang aneh, jika ada seseoang yang atas nama islam, mengaku-ngaku telah mencapai hakikat islam, atau mengaku bahwa ia adalah orang yang mempunyai peran besar dalam menyebarkan dakwah islam atau membela islam. Namun, nas-nas dalam syari’at yang ada dalam agama, memutuskan bahwa orang ini jauh dari tahabbub, dari mencapai terhadap hakikat islam, iman, apalagi hakikat ihsan.

Seandainya, bentuk fisik dari rukun-rukun islam dia jalankan, lalu kemana orang tersebut dalam konsep muslim sejati yang disebutkan Rasulullah SAW. Dalam hadistnya, “Muslim sejati adalah yang membuat muslim lain selamat dari gangguan lidah dan lisannya”.

Kemudian kita lihat mereka yang mengaku membela islam, namun setiap hari pasti ada orang lain yang menjadi korban lidahnya. Lalu bentuk pembelaan apa yang ia lakukan terhadap orang islam? Maka islam bagaimana yang ia aku dan ia ajak orang lain kepadanya. Jangan-jangan ia mengajarkan sesuatu yang lain. Bukan islam yang dibawa oleh nabi Muhammad. Adapun islam yang dibawa nabi Muhammad, bertentangan dengan pembawaan dan cara mereka.

 

Ciri-ciri Pencapaian Hakikat Islam

Bagaimana sebuah hadist yang shohih dari nabi kita, mengisyaratkan bahwa tidak ada pencapaian hakikat dari islam tersebut, seseorang yang telah keluar dari mayoritas. Tataran ini tidak akan mempu mencapai hakikat islam manakala ia keluar dari jama’ah kaum muslimin dengan dalih apapun. Hadist ini dirawayatkan oleh Muhammad bin abdurrazaq al-Haitami. Rasulullah SAW. berkata: “Aku memerintah kepada kalian 5 perkara. Untuk mendengarkan dan menta’ati. Ikut pada kelompok jama’ah, khidmah dan jihad (Jihad di jalan Allah). Maka barang siapa yang keluar dari kelompok jama’ah satu jengkal saja, maka kalung islam telah lepas dalam dirinya. Barang siapa yang megaku-ngaku ataupun menggunakan panggilan jahiliyyah, maka ia termasuk kedalam penghuni jahannam”. Nabi Muhhammad SAW. ditanya “Walau pun mereka melakukan puasa dan shalat?”. Nabi menjawab.“Ya, walaupun mereka melakanakan puasa dan shalat”.

Bukan hal yang tidak nyata bagi kita sekalian didalam makna yang berkaitan tentang jama’ah, bahwasannya dari keluarga Rasulullah SAW., pewaris-pewaris beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebenar-benarnya, mereka selalu bersama jama’ah dan tidak keluar dari pada perjalanan dan apa yang diajarkan kelompok mayoritas islam.

Sungguh, yang menjadi penentuan itu adalah hakikat yang kita miliki.Karena itu kita menginginkan mencapai hakikat dengan rukun-rukun agama. Dan merekalah, para ahlu sunnah wal jama’ah, kelompok mayoritas yang diisyaratkan didalam hadist nabi Muhammad SAW. Mereka adalah kelompok yang terus-menerus ada hingga akhir zaman, yang tidak mengganggu dan membahayakan orang yang mencela dan menghujat.

 

Pemimpin Umum MAJALAH LANGITAN KH. Macshoem Faqih bersama Habib Umar bin Salim bin Hafidz

Pemimpin Umum MAJALAH LANGITAN KH. Macshoem Faqih bersama Habib Umar bin Salim bin Hafidz

Meninggalkan Sunnah Jahiliyah

Diantara hakikat islam adalah membenci semua sunnah-sunnah ajaran jahiliyyah, yang bertentangan dengan ajaran islam. Sebagaimana yang kita pelajari dalam kitab shohih bukhori tentang orang-orang yang paling dibenci oleh Allah SWT. ada 3. Diantaranya adalah, Orang yang berada dijalan islam, tapi masih mencari ajaran sunnah jahiliyah.

Diantara orang-orang yang mengikuti sunnah jahiliyah adalah kefanatikan akan suatu kebatilah/kemungkaran. Dia rela membelanya karena fanatik akan sunnah jahiliyah. Ia adalah orang yang ingin selalu membalas dendam, mencari dan menumpahkan darah orang lain tanpa hak, sampai dia melakukan pembunuhan. Hingga apabila ada orang yang berbeda dari pendapatnya, ia berkata “Ini sudah keluar dari islam dan halal darahnya untuk ditumpahkan”. Apabila ia terhalang untuk meraih kursi pemerintahan, dia menganggap “Ini bertentangan dengan islam dan darahnya halal untuk dibunuh”.

Sehingga kita mengenal didalam sejarah, sejak dahulu hingga sekarang ini, orang-orang yang mengejar jabatan dan pemerintahan, mereka mengaku demi membela islam. Mereka berkata: “Saya membela islam dan dia adalah orang-orang kafir”. Mereka suarakan Allahu akbar, Allahu akbar, lailaaha illallah, tapi mereka saling membunuh, saling menembak.

Dia memberikan citra yang buruk tentang islam, sehingga orang-orang non muslim menjadi enggan ketika islam dihadapkan pada mereka, padahal yang mereka dengar itu tidak benar. Mereka membantu kekufuran dengan memberikan terhadap orang-orang kafir anggapan sebagai orang islam yang tidak benar. Dan hal ini juga diterang kan oleh imam at-Thabaroni dalam Muad al-Kabir, Rasulullah SAW. bersabda: “Hal yang paling aku tajkutkan terhadap umatku adalah 3 perkara”.

  1. seseorang yang membaca kitab Allah, hingga menguasainya, kemudian dia memakai sorban-sorban keislaman, tapi kemudian ia melihat tetangganya dan menuduh masyarakatnya dari pada kesyirikan dan menghunus pedangnya kepada mereka. Fikirannya telah teracuni, hingga ia berperasangka “Ini orang kafir, syirik, bid’ah, ini orang yang tidak benar”. Dia mulai berani mengkafirkan orang lain dari keluarga, dan orang lain dari ummat islam. Dia menghunuskan pedangnya, dan dia tebas orang-orang yang berada dilingkungannya, tetangganya, dan menuduh mereka dengan tuduhan syirik. Maka sahabat bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sebenarnya yang lebih syirik itu yang menuduh, atau yang dituduh?’.Nabi menjawab, “Justru yang menuduh itu, dia lebih dekat dari pada kesyirikan dari pada yang dituduh”.
  2. Seseorang yang diberikan kepeminpinan/jabatan dipemerintahan, dan dia mengklaim “Yang taat pada saya, berarti ia taat pada Allah, yang melanggar saya, berarti ia melanggar Allah”. Maka, orang ini dusta, sebab seorang khalifah tidak bisa kecintaannya itu, melebihi dari pada kecintaan terhadap Allah ta’ala.

Para khalifah zaman dahulu yang membawa kebenaran, tidak pernah mengklaim hal-hal yang demikian.Tapi mereka mengatakan “Seandainya aku istijabah (diterima), maka bantulah aku. Namun apabila aku menyimpang, maka luruskanlah aku”.Mereka tidak mengklaim dengan klaim-klaim yang tidak benar.

  1. Orang yang tidak punya pilihan dan gampang terbawa oleh setiap kejadian yang terjadi. Apabila ada suatu pemikiran yang baru, dia terbawa untuk berkumpul bersama mereka, dan mengikuti apa yang dianggap baik oleh pemikiran itu. Apabila terjadi sesuatu, ia menyampaikan dengan lebih dari pada apa yang ia dapat. Seandainya ia berjumpa dengan datangnya dajjal, pasti ia akan ikut pada dajjal.

 

Konsep Hakikat Iman

Sebagaimana apa yang kita sebutkan daripada keislaman, kami pun akan menyebutkan hal yang sama dalam keimanan. Kita telah mendengar tentang apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW., Siapa itu mukmin sajati “Demi Allah tidak beriman orang yang tidur dimalam hari dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga disebelahnya tidur dalam keadaan lapar”. Hadist ini, mana yang terangkum dalam rukun iman yang 6 itu?.

Di dalam hadist yang lain disebutkan, “Mukmin sejati adalah yang membuat mukmin lain aman, dari gangguan terhadap darah, harta, dan kehormatan mereka”. Juga disebutkan dalam sebuah hadist “Tidak beriman seseorang diantara kalian hingga ia mencintai untuk orang lain sebagaimana ia cinta untuk dirinya sendiri”. Dan juga didalam hadist shahih Bukhori yang berkenaan dengan cinta, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga aku menjadi orang yang ia cintai melebihi dirinya, hartanya, anak-anaknya, dan semua manusia”.

Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW. bersabda: “Cintalah kalian karena Allah dan membenci sesuatu karena Allah, membela sesuatu karena Allah dan memusuhi sesuatu karena Allah. Sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan pembelaan dari Allah kecuali dengan hal itu semua”.

Seseorang tidak akan bisa merasakan nikmat dan manisnya iman didalam sholat, puasa, dan ibadahnya, hingg ia memiliki sifat-sifat yang tadi disebutkan. Kita belajar dari ucapan imam Syafi’i yang mengatakan “Aku cinta kepada kaum shalihin walaupun aku bukan bagian dari mereka, namun semata-mata agar aku disamakan mereka”.

Kemudian keimanan tersebut akan membuahkan kekuatan yakin, dan yakin tersebut akan membuat semua tabir-tabir yang menutupi hati kita sirna, sehingga hati tersebut memiliki firasat yang kuat.

Dalam hadist imam Tirmidzi dan Bukhori disebutkan bahwa Rasulullah SAW.bersabda, “Takutlah kalian terhadap firasat seorang mukmin, sebab orang mukmin memandang firasat itu dengan cahaya Allah ta’ala”.

 

Mencapai Hakikat Ihsan

Hakikat iman dan islam menjadi kuat pondasinya dengan mendapatkan ilmu dan penjelasan. Dan ilmu itu akan didapat dengan belajar pada para masyayikh, guru, orang-orang yang terpilih. Kemudian barang siapa yang telah mencapai hakikat islam dan iman, dan telah kokoh didalam hatinya, maka ia akan mencapai pada hakikat yang ketiga, yakni hakikat ihsan. Dan ihsan merupakan jenjang pertama dari jenjang syuhud (kesaksian). Rasulullah mengungkapkan ma’na ihsan itu dengan “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau menyaksikan Allah”.Renungi ucapan nabi yang mengatakan “Seakan-akan engkau menyaksikan Allah”!.

Kesaksian ini, untuk hati seseorang adalah kunci guna mendekatkan diri pada Allah. Ini bukan hanya lintasan hayalan yang tak berarti, namun perasaan yang menetap,melekat, dan tinggal dalam hati orang itu.Dan disitulah terbukanya hijab dan pintu bagi orang yang semacam ini.

Ada dua pondasi yang jika seseorang telah melampauinya, maka akan terbukalah hijab didalam hatinya 1. Mujahadah yang dapat mengikis nafsu dan sifat tercela. 2.Menghiasi hati akan kehadiran selalu bersama Allah didalam hatinya. Dengan dua pondasi ini, akan dibukakan hijab dan pintu. Dan kita berharap semoga kita bisa mencapai daripada rukun-rukun agama ini.

Melalui tangan mereka yang telah mencapai derajat hakikat, ummat baru bisa diselamatkan. Kebahagiaan didunia dan akhirat tidaklah milik siapapun, kecuali mereka yang telah mencapai hakikat ini. Sebab pergolakan, perubahan, peralihan yang terjadi didunia ini, semua adalah ketentuan dan hikmah dari Allah SWT.namun, hasil akhir dari kemenangan, keberuntungan adalah bagi mereka yang telah mencapai hakikat-hakikat yang mulia ini.

Maka kita perlu mencurahkan perhatian besar untuk mencapai hakikat ini semua, didalam madrasah kita, pondok pesantren kita, dan wilayah kita. Agar kita bangkit dan bergerak didalam membela dakwah yang mulia ini semata mata dengan cinta-kasihsayang dan kesungguhan didalam mencintai umat yang mulia ini.

[Muhammad Ichsan]

 

tags: , , , , , ,

Related For Mengenal Hakikat Islam, Iman, dan Ihsan; (Ceramah Habib Umar bin Hafidz di Langitan)