Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin, Krempyang, Tanjunganom, Nganjuk (Nyantri Sambil Belajar Ternak Sapi)

Sunday, February 2nd 2014. | Jelajah Pesantren, Uncategorized
Garda Depan; Pintu masuk pondok Miftahul Mubtadiin

Garda Depan; Pintu masuk pondok Miftahul Mubtadiin

Belajar di pesantren, tidak melulu mengaji ilmu agama. Namun juga belajar tentang kehidupan. Termasuk berwirausaha agar kelak ketika terjun ke masyarakat dapat hidup mandiri secara ekonomi. Hal inilah yang diajarkan di Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin, Desa Krempyang, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.

“Santri itu harus multitalenta, bukan hanya bisa ngaji tapi juga mampu melakukan segalanya”. Barangkali falsafah itu memotivasi para masyayikh Pesantren Miftahul Mubtadiin untuk mampu mencetak santri yang kreatif dan terampil. Para masyayikh berusaha menciptakan lahan perekonomian bagi para santri sebagai bekal keterampilan saat terjun ke masyarakat.

Ikhtiar para masyayikh Pesantren Miftahul Mubtadiin dapat dikatakan sangat berhasil. Terbukti, bila kita berkunjung ke pesantren ini, tak akan pernah menemukan sampah atau sisa-sisa makanan yang berserakan. Para santri menyulap menjadi barang yang berguna. Bahkan kotoran apa saja bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Pesantren  yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Krempyang ini juga mempunyai usaha penggemukan sapi. Disamping dikelola pihak pondok, ada pula yang dikelola masyarakat sekitar yang juga alumni dari Pondok Krempyang. “Ini juga sebagai sarana silaturrahim dengan para alumni,” jelas KH Hamam Ghozali, salah seorang pengasuh Pesantren Miftahul Mubtadiin.

Dari usaha penggemukan sapi tersebut, bukan hanya daging yang dimanfaatkan. Limbah yang dihasilkan oleh sapi juga dimanfaatkan menjadi pupuk untuk menyuburkan lahan pertanian dan perkebunan. Dibelakang area pondok terdapat lahan pertanian dan perkebunan seluas tiga hektar. Lahan ini ditanami padi dan sayur-mayur. Disamping hasilnya dijual keluar, juga untuk kebutuhan para santri. ”Jerami dari dari persawahan tersebut juga di pergunakan untuk makanan sapi” lanjut putra kelima almarhum KH Ghozali

Penggemukan Sapi; Bermula beberapa ekor, jadi puluhan

Penggemukan Sapi; Bermula beberapa ekor, jadi puluhan

Manan, pendiri Pondok Krempyang.

Daerah sekitar pesantren ini memang sangat potensial untuk pengembangan peternakan. Diversifikasi atau pengembangan usaha memanfaatkan potensi yang ada memunculkan ide untuk mendirikan pabrik tahu. Dipilihnya usaha ini karena sapi membutuhkan makanan tambahan. Maka ampas tahu adalah makanan yang paling cocok. “Tiap harinya ada beberapa santri yang bertugas mengurus usaha tersebut. Pada setiap unit usaha di pondok ini memang ada sudah manajernya sendiri-sendiri,” ungkap Gus Hamam yang juga Wakil Ketua Yayasan Islam al Ghazali.

Pesantren yang memiliki sekitar 2700 santri ini juga membuat program subsidi silang. Sehingga santri yang berangkat dari rumah dengan tanpa bekal, bisa diberdayakan dengan melibatkannya dalam usaha-usaha milik pondok. Pesantren yang ideal, kata Gus Hamam, adalah pondok yang mandiri. Disamping berkembang santrinya juga berkembang secara ekonomi. Sebab jika hanya mengandalkan iuran dari para santri, perkembangannya akan sangat lamban.

Halaqah; Para santri mengaji kitab kuning

Namun, kata Gus Hamam, yang terpenting dalam pendidikan di pesantren adalah akhlakul karimah. Yakni menata akhlaq para santri. “Kita merasa tak puas jika anak itu pintar saja, tapi tidak berakhlaqul karimah,” tegas kiai yang pernah belajar di Makkah, Arab Saudi ini.

Karena itulah, sebagaimana pesantren-pesantren salaf lainnya, pesantren hidayatul mubtadiin pun lebih mengutamakan program pendidikan dengan menggunakan metode klasik. Model pengajian di Pesantren Krempyang adalah dengan sistem sorogan dan bandongan. Tentu saja tidak ketinggalan adalah ciri khas pondok kidulan yakni prioritas dalam bermusyawarah. Selain kegiatan pengajian, pesantren inipun mempunyai kegiatan ekstra diantaranya muhadlarah, qiratul qur’an dan masih banyak lainnya. Seiring dengan perkembangan jaman, pesantren ini memadukan kurikulum salaf dengan kurikulum pemerintah.

Berdiri Tahun 1940

Pendiri; KH. Ghazali Manan semasa hidupya

Pendiri; KH. Ghazali Manan semasa hidupya

Pondok pesantren Miftahul Mubtadiin didirikan oleh KH Ghozali Manan pada tahun 1940. Kiai Ghozali dilahirkan di Desa Bedrek, Kecamatan Grogol, Kota Kediri, pada tahun 1912. Masa remajanya dihabiskan dengan menimba ilmu di berbagai pesantren, diantaranya Ponpes Mangunsari Nganjuk, Ponpes Mojosari Nganjuk, Ponpes Lirboyo Kediri dan Ponpes Jampes Kediri. Setelah dirasa cukup dalam misi ngudi kaweruh di pesantren, Kyai Ghozali dinikahkan dengan Siti Khadijah, salah satu putri KH. Abdul Fattah, Krempyang, Tanjunganom, Nganjuk.

Dulunya, Pondok Krempyang hanya berupa surau kecil yang didirikan Kyai Fattah. Seiring dengan makin banyaknya santri yang ikut mengaji, Kyai Ghozali Manan berinisiatif mendirikan beberapa gotha’an sebagai tempat persinggahan santri. Hingga akhirnya pada tahun 1952, Kyai Ghozali mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Pertumbuhan jumlah santri semakin pesat.

Kyai Ghozali wafat tahun 1990. Estafet kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putra-putranya. Saat ini kepengurusan Pesantren Miftahul Mubtadiin dipimpin oleh KH Muhammad Ridlwan Sybani yang juga mengasuh pondok putra. Dibantu KH Hamam Ghazali dan KH Agus Nur Salim Ghazali yang mengasuh pondok putri. Ketiganya adalah putra-putra dari KH. Ghazali manan.

Pada periode ketiga pengasuh ini, berdiri perguruan tinggi yang dinamakan Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA). Selain itu juga terbentuk Forum Kajian Khusus Kitab Kuning (FK4).

                                                                           Najibuddin (dari berbagai sumber)

tags: , , , , , , , , , ,

Related For Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin, Krempyang, Tanjunganom, Nganjuk (Nyantri Sambil Belajar Ternak Sapi)