Usaha Menyertai Tawakal

Friday, January 10th 2014. | Tasawuf

tumblr_m62qhrXCRY1rzn329o1_250

Suatu hari, seorang lelaki badui datang ke masjid dengan menunggang kuda. Sesampainya di masjid, ia menghadap Rasulullah SAW tanpa mengikat kudanya. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, lelaki itu menjawab: “Aku telah bertawakal kepada Allah.” Mendengar hal tersebut Rasulullah bersabda: “Ikatlah kudamu, kemudian bertawakallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

Pesan penting dari Rasulullah SAW itu untuk membuka pemahaman kita tentang hakikat dari tawakal. Tawakal sudah seharusnya mendasari segala aktivitas orang-orang yang beriman. Tawakal juga menjadi landasan bagi manusia untuk senantiasa berserah diri pada Allah SWT. Inilah salah satu ajakan Rasulullah kepada umatnya untuk bertawakal hanya kepada Sang Pencipta kehidupan ini.

Namun, banyak sekali manusia yang salah dalam menafsirkan makna dan mengaplikasikan bentuk tawakal. Banyak orang yang mengaku telah melakukan tawakal kepada Allah, namun mereka kurang atau bahkan sama sekali tidak maksimal dalam berusaha. Saat gagal, mereka akan menyalahkan takdir atau ketentuan Allah. Selain itu banyak orang yang condong mengutamakan pasrah tanpa usaha sebagai bentuk tawakal. Mereka menyerahkan segala urusan kepada Allah tanpa ada upaya untuk menyelesaikannya.

Tawakal bukanlah meniadakan upkerja kerasaya. Namun harus ada usaha nyata dari seorang hamba. Hakikat tawakal adalah apabila seorang hamba menyandarkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dalam berbagai kemaslahatan agama dan dunianya, dengan disertai melakukan sebab-sebab yang mengantarkan kepada tujuan. Tentunya cara-cara yang ditempuh haruslah diperbolehkan oleh syariat. Dengan demikian tawakal itu meliputi keyakinan hati, penyandaran diri serta melakukan amal perbuatan.

Yang dimaksud dengan keyakinan hati adalah percaya bahwa segala urusan ada di tangan Allah. Segala sesuatu yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Allah sematalah Sang Pemberi manfaat, madlarat, Pemberi karunia dan yang berhak mencegah pemberianNya. Setelah seorang hamba meyakini akan hal itu, hendaknya ia menyandarkan hatinya pada Allah serta mempercayakan sepenuhnya kepada-Nya. Setelah itu, dia melaksanakan bagian yang ketiga yaitu melakukan usaha-usaha yang diperbolehkan syariat.

Allah telah menciptakan hukum sebab akibat yang berlaku di alam semesta ini dengan sangat sempurna. Apabila seseorang lapar, maka hendaknya ia makan supaya kenyang. Apabila seseorang ingin memiliki harta maka hendaknya ia bekerja. Apabila seorang ingin memiliki anak hendaknya ia menikah. Demikianlah di antara hukum sebab akibat yang sudah kita mengerti.

Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rezeki, manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut. Tetapi Allah SWT semata. Apabila seorang bertawakal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan- maka hal ini bisa dikategorikan ke dalam syirik.

Apabila seorang hamba bertawakal pada makhluk atas suatu perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah, maka tawakal semacam ini bisa termasuk syirik akbar. Yakni syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Seperti halnya bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya diampuni atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat. Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka. Padahal tidak ada siapapun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah semata. Dan perbuatan semacam ini termasuk syirik akbar.

Sedangkan bila seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan oleh Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab. Seperti seorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rizkinya, maka hal semacam ini termasuk syirik ashgor karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut. Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allahlah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa.

Ingatlah bahwa tawakal bukan hanya untuk meraih kepentingan duniawi. Namun hendaknya seseorang juga bertawakal dalam urusan akhiratnya. Untuk meraih apa yang Allah ridlai dan cintai, maka hendaklah seseorang juga bertawakal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan dan jihad fi sabilillah.

                                                                                                                                                                                [najibuddin]

tags: , , , , , , ,

Related For Usaha Menyertai Tawakal