Berziarah dan Mengenang Sayyidatuna Khadijah al-Kubra di Ma’la

Friday, January 10th 2014. | Ziarah

IMG-20130912-WA0002 

Beberapa hari menjelang berakhirnya musim haji, suasana Makkah masih penuh sesak dengan para jamaah haji dari belahan dunia. Setelah melakukan tahalul sebagai penyempurna ibadah haji, biasanya para jamaah masih menyisakan beberapa hari untuk berkunjung ataupun berziarah ke beberapa tempat bersejarah di Makkah al-Mukarramah. Dan, satu tempat yang tak luput dari kunjungan mereka adalah pemakaman Ma’la yang terletak beberapa meter di sebelah timur Masjid al-Haram.

Di hari-hari ini, para warga Negara Indonesia yang bermukim di Makkah –khususnya para pelajar- juga berkesempatan untuk menyambut jamaah haji Indonesia. Selain hormat tamu, mereka juga akan senang hati mengantar jamaah yang ingin mengharap berkah doa ulama Makkah atau berkunjung dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah. Boleh dikata menjadi semacam pramuwisata namun bukan untuk dibayar. Seperti yang saya dan beberapa rekan alami ketika bertemu dengan beberapa kloter dari Indonesia yang mengajak untuk diantarkan ke area pemakaman Ma’la. Satu pemakaman yang memiliki keistimewaan sebagaimana yang telah ditulis dalam edisi sebelumnya.

Sekali lagi, keistimewaan makam Ma’la adalah karena di sinilah orang-orang tercinta Rasulullah Saw disemayamkan, termasuk Ummina Sayyidatina Khadijah al-Kubra, yang posisi makamnya berada tepat di bawah kaki gunung Assayyidah (Bukit Khadijah) dan posisinya menghadap kiblat ke arah Masjid al-Haram.

Sebenarnya, dulu di sekitar makam Ummina Syyidatina Khadijah didirikan sebuah kubah besar sebagai simbol keagungan si penghuni makam. Tapi sayangnya, sekitar tahun 1990-1991, orang-orang Wahabi meratakannya dengan tanah. Sehingga makam beliau sekarang seakan tiada beda bentuknya dengan makam-makam yang lain.

Siti Khadijah adalah putri Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Tumbuh menjadi wanita mulia di antara kaumnya di Makkah. Ia dijuluki at-Thahirah (bersih dan suci). Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdas serta memiliki perangai yang luhur. Karena  itulah banyak laki-laki dari kaumnya yang menaruh simpati.

Dua kali Siti Khadijah menjalani kehidupan berumah tangga, namun dua-duanya pula harus kandas. Awalnya ia menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang memiliki dua orang anak bernama Halah dan Hindun. Setelah Abu Halah meninggal, dinikahi oleh Atiq bin A’id bin Abdullah al-Makhzumi namun akhirnya pisah.IMG-20130912-WA0005

Setelah itu, banyak tawaran silih berganti dari pemuda dan pemuka Quraisy yang mempersunting Siti Khadijah, tetapi –untuk sementara- beliau menutup mata dan mencurahkan perhatiannya untuk mengurus dan mendidik putra-putrinya, di samping urusan perniagaan tentunya karena beliau adalah saudagar kaya raya.

Ketika beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, beliau mendengar tentang Muhammad (sebelum diangkat Nabi) memiliki kejujuran dan berakhlak mulia sehingga dijuluki al-Amin. Siti Khadijah kemudian meminta Muhammad untuk menjadi relasi bisnis. Melihat kinerja Muhammad selama berelasi, Siti Khadijah merasa gembira karena Muhammad benar-benar orang yang amanah seperti yang diceritakan banyak orang. Ketakjuban terhadap kepribadian Muhammad memunculkan benih cinta kepada Muhammad. Hingga akhirnya, takdir mempertemukan keduanya untuk mengarungi kehidupan bersama (baca: menikah).

Jika melihat jarak usia antara Nabi Muhammad Saw. dengan Siti Khadijah ketika mengikat tali perkawinan ialah 15 tahun, di mana Nabi Muhammad Saw masih berusia remaja (25 tahun) sedangkan Siti Khadijah sudah berusia 40 tahun. Namun, faktor usia bukanlah menjadi penghalang keduanya untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Kehidupan bahagia antara seorang pemuda berbudi mulia dengan seorang hartawan wanita yang mulia pula.

Tinta emas Islam mencatat, bahwa Siti Khadijah adalah seorang wanita pertama yang beriman dan bersaksi dengan tanpa bertanya maupun berdebat atas kerasulan suaminya, Muhammad Saw. Beliu adalah seorang istri yang merelakan seluruh jiwa, raga dan harta demi mendukung perjuangan sang suami dalam memperjuangkan agama Islam. kebesaran jasanya, kemuliaan hati dan akhlaknya begitu membekas, hingga Rasulullah selalu menyebut kebaikan-kebaikan beliau meski sudah wafat.

Rasulullah Saw. bersabda: “Ia telah beriman kepadaku ketika orang lain kufur. Dia mempercayaiku ketika orang-orang mendustaiku. Dia memberikan hartanya kepadaku ketika tidak ada orang lain yang membantuku.” [HR. Bukhari, Ahmad dan Thabrani].

makam Siti Khadijah sebelum dibongkar

makam Siti Khadijah sebelum dibongkar

Ya, wanita terhormat di kalangan Quraish ini, memiliki kedudukan yang sangat khusus di mata Rasulullah. Dan itu bukan karena kehormatan atau kekayaannya, melainkan dari keimanan dan kepeloporannya.

Semasa hidupnya Siti Khadijah sangat setia menyertai Rasulullah dalam suka dan duka. Apabila Rasulullah dalam keadaan gelisah berselimut masalah, beliau datang sebagai penenang. Rasulullah Saw. menyifatinya sebagai “khair an-nisa”, yaitu sebaik-baik wanita yang patut dijadikan teladan oleh wanita sepanjang zaman. Bagiamana tingkah laku beliau di hadapan suami dan orang lain. Bagaimana cara beliau melayani suami, mengasuh anak-anak dan seterusnya.

Begitulah, Siti Khadijah, merupakan assabiquun alawwaluun, golongan yang pertama mempercayai kenabian Muhammad Saw. Beliau adalah penenang, penguat, dan pendukung Nabi, di masa-masa tersulit, ketika Nabi SAW, banyak dicerca, dicela, ditertawakan, bahkan dianggap gila.

Jadilah seperti Siti Khadijah, assabiquunal awwaluun, yang diridhai Allah Swt.

 Oleh: H. Zainul Anwar Asmali *)

*) Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Langitan yang sedah menempuh pendidikannya

di Markaz Sayyid Abbas bin Alawi al-Maliky, Makkah al-Mukarramah.

 

tags: , , ,

Related For Berziarah dan Mengenang Sayyidatuna Khadijah al-Kubra di Ma’la