Khadijah binti Khuwailid, sang Kekasih Rasulullah SAW.

Thursday, June 27th 2013. | Jejak Utama, Uswatun Hasanah

Sang KekasihKhadijah adalah putri Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Tumbuh menjadi wanita mulia di antara kaumnya di Makkah. Ia dijuluki at-Thahirah (bersih dan suci). Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdas serta memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Awalnya ia menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang memiliki dua orang anak bernama Halah dan Hindun. Setelah Abu Halah meninggal, dinikahi oleh Atiq bin A’id bin Abdullah Al Makhzumi namun akhirnya pisah.

Setelah itu banyak dari pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan Khadijah, tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan. Ketika beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, beliau mendengar tentang Muhammad (sebelum diangkat Nabi). Pria dengan sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia sehingga dijuluki al-Amin. Khadijah kemudian meminta Muhammad untuk menjadi relasi kerja dengan menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya bernama Maisarah.

Khadijah merasa gembira dengan hasil usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya.

Di saat bingung dan gelisah karena perasaan menggangu hatinya, temannya Nafisah binti Munabbih, menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khadijah tentang simpati kepada Muhammad. Dengan bantuan Nafisah, Abu Thalib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amr bin Asad untuk melamar Khadijah untuk keponakan mereka Muhammad, dan selanjutnya menyerahkan mahar.

Dalam perayaan pernikahan dua keluarga yang disegai di kalangan Quraisy ini diadakan dengan menyembelih beberapa ekor hewan yang kemudian dibagikan kepada orang-orang Makkah. Dari keluarga itu, Allah memberikan karunia kebahagaian putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.

Orang Pertama masuk Islam & Pendeta Waraqah
Kekuatan cinta Khadijah tidak luntur ketika Muhammad mulai menjauh dari manusia dan sering menyendiri di gua Hira’ sebulan penuh setiap tahunnya. Bahkan, ia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga suaminya dari para pengganggu, tanpa sepengetahuan suaminya.

Puncaknya, ketika Malaikat Jibril turun membawa risalah Ilahiyah pada bulan Ramadhan. Muhammad keluar dari gua menuju rumah dalam kegelapan fajar dengan badan yang gemetaran, sambil menggigil. Dalam ketakutan Muhammad, Khadijah membesarkan hati suaminya, “Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar Anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya Anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.”. Hati Rasulullah pun menjadi tentram karena dukungan dan iman dari istrinya.

Khadijah kemudian mendatangi Waraqah bin Naufal, putra pamannya. Setelah menceritakan apa yang terjadi pada suaminya, dengan nada tinggi Waraqah berkata, “Qudus, Qudus, Demi jiwaku yang ada kekuasaan-Nya, jika ceritamu benar, sungguh telah datang kepadanya Namus al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara langsung.” Waraqah kemudian mencium ubun-ubun Rasulullah yang datang seraya berucap, “Sungguh engkau adalah Nabi bagi umat ini, seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong agama Allah.” Tapi tidak beberapa lama Waraqah pun meninggal.

Teguh Mendampingi Rasulullah SAW
Khadijah berdiri mendampingi Nabi yang dicintai untuk menolong, menguatkan dan membantunya menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman dari kuffar Mekah.

Ketika orang-orang Quraisy menetapkan pemboikotan terhadap kaum muslimin, Khadijah tanpa ragu bergabung dengan kaum muslimin bersama Abu Thalib meninggalkan kampung halaman untuk dan bertahan selama tiga tahun menghadapi beratnya pemboikotan.

Enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu, Abu Thalib meninggal, tidak berselang lama Sayyidah Khadijah yang sangat dicintai Nabi berpulang ke sisi Allah pada tiga tahun sebelum hijrah. Wafatnya dua sosok yang selalu menjaga dan melindungi Rasulullah SAW itu kemudian dikenal dengan sebutan “tahun susah”.

Dalam sejarah Islam, Sayidah Khadijah telah berhasil dan sebagai simbol wanita teladan terbaik dan paling tulus berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalanNya. Atas jasanya yang tinggi, Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid.”

[Muh. Umar Faruq]

tags: , , , , , ,

Related For Khadijah binti Khuwailid, sang Kekasih Rasulullah SAW.