Sawan

Friday, May 3rd 2013. | Cerpen, Dawai

*Adzikro@l_aqsho

Sudah hampir satu jam tangisnya belum juga reda, malah semakin menjadi, ditambah lagi nafasnya tersengal-sengal dan suhu badanya begitu tinggi, aku bingung apa yang harus aku lakukan, sementara istriku yang juga tak bisa melakukan sesuatu apapun agar semua membaik, dia malah menangis sejadinya pula, naluri keibuannya tak tega melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.

Jam menunjukkan pukul satu dini hari, aku masih panik, buntu, dan keadaan masih sama. Beberapa tetangga kanan kiri mulai berdatangan, maklumlah tangis Tasya aku yakin terdengar sampai rumah mereka, sehingga mereka pun sebagai tetangga dengan naluri persaudaraannya berduyun-duyun membawa rasa simpati, sekadar ingin tahu apa yang terjadi, atau lebih dari itu, membantu memberikan solusi. Aku tak menghirau mereka, aku tak bisa menjawab setiap lontaran pertanyaan mereka, aku masih mondar-mandir tak jelas.
“Nak Rahmat, coba kamu bawa saja Tasya ke bidan Sulastri, mungkin Tasya bisa lebih baik”
Bude Atun, tetangga depan rumahku itu memberi saran padaku. Baru setelah itu aku sadar, harusnya dari tadi aku melakukannya, kenapa malah aku membiarkan Tasya dalam keadaannya selama itu, kecemasan dan rasa khawatir membuatku benar-benar tak tahu apa yang harus kuperbuat.

Sesampai di bidan Sulastri, aku ketuk pintu rumahnya, salam berkali-kali aku teriakkan, aku masih tetap panik, karena Tasya masih saja dengan tangisnya, tak kan tega siapapun melihat keadaan Tasya yang pucat pasi, nafas tersengal, dan demam yang begitu tinggi, tak kunjung ada jawaban dari dalam rumah bidan Sulastri, hingga seorang petugas ronda lewat dan berkata padaku dan istriku; “Dari sore tadi, bu bidan sekeluarga pergi, dan kelihatannya malam ini belum pulang” tanpa pikir panjang aku segera membawa Tasya menuju puskesmas di kecamatan, aku yakin di sana Tasya akan mendapat pertolongan, sampai-sampai aku lupa mengucap terima kasih pada petugas ronda yang telah memberitahuku tadi, “Ah, yang penting Tasya segera mendapat perawatan” pikirku.

Setelah diperiksa di puskesmas kecamatan, kata bidannya, Tasya harus egera dirujuk ke rumah sakit umum di kota,s ebab keadaan Tasya sangat memprihatinkan. Aku pun segera berangkat mengikuti saran bidan.
Tiba di rumah sakit umum kota, kumandang adzan Subuh bergema, Tasya pun dibawa ke ruang ISU guna pemeriksaan, aku dan istriku tidak diperkenankan masuk, aku dekap istriku, kucoba menenangkannya, maklumlah Tasya adalah anak kami satu-satunya, ditambah lagi usia Tasya belum genap satu tahun, dan dia harus merasakan sakit yang bagiku dan istriku sangat berat ini, padahal sebelumnya Tasya tidak pernah sakit seperti ini.

@@@

“Bagaimana keadaan Tasya, kata dokter dia sakit apa?” beberapa sanak saudara, sahabat-sahabatku juga rekan-rekan kerjaku mulai datang bergantian membesuk Tasya.
“Kata dokter Tasya hanya demam biasa, tapi mungkin karena terlalu lama dia tidak ditangani, hingga demamnya sangat tinggi, sampai-sampai pernafasannya pun terganggu, dan seperti yang kalian lihat, Tasya harus dibantu dengan alat pernafasan, tapi yang aku heran, Tasya tak bisa berhenti menangis”

Semua hanya terdiam, semua iba pada Tasya. Makan bahkan untuk sekadar memberinya ASI tidak bisa karena pernafasannya masih tersumbat, jadi untuk pertahanan tubuhnya hanya mengandalkan infus.
Demi peri kecilku, aku dan istriku harus selalu terjaga, suasana detik-detik terakhir Ramadhan harus aku lalui bersama istri dan Tasya di rumah sakit. Padahal, di sisa usia ramadhan ini iming-iming pahala berlipat ganda seperti diobral, betapa ibadah sekecil apapun akan bernilai tinggi. Tapi biarlah, semoga semua ini juga bernilai ibadah.

@@@

Karena kondisi Tasya setelah dirawat dua hari tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, keluargaku pun memutuskan untuk mencarikan suwuk, atau jampe-jampe ke orang pinter. Awalnya aku menolak, aku merasa hal itu sama saja dengan syirik, apa lagi kalau sampai meyakini bahwa penyembuhnya adalah suwuk dari orang pintar itu.

“Rahmat, bukannya kita itu mau minta pertolongan sama selain Allah, tapi apa salahnya jika kita meminta bantuan, tawassul dengan orang-orang pintar, para kyai ahli suwuk yang dekat dengan Allah, dengan do’a-do’a yang mereka baca”
Aku tetap menolak, karena dalam kamusku tak ada kata meminta bantuan pada selain Allah. Perdebatan panjang terjadi.
“Jangan-jangan anakmu itu sawanen Rahmat, coba kamu ingat!”

Kali ini ibuku ikut bicara, dan aku sudah tak bisa membantahnya, sebab ibu selalu memberikan argumen pada setiap penadapatnya.
Sawan, kerap dialami anak-anak kecil, termasuk Tasya, penyebabnya bermacam-macam, ada kalanya kaget, ketakutan pada hal-hal yang belum pernah mereka alami,s ehingga shok, dan mengalami tekanan jiwa mereka yang masih sangat labil sekali. Dan anehnya beberapa kejadian menyatakan bahwa obat penyakit sawan hanya satu, yaitu dengan mengulangi kejadian atau sesuatu yang menyebabkan sawan tadi.
Aku ingat, waktu itu Tasya dan istriku aku ajak jalan-jalan ngabuburit di alun-alun kota, dan berjama’ah tarawih di masjid agung, lalu sepulangnya Tasya langsung seperti ini. Mungkin dia kaget dengan keramaian di kota yang belum pernah dia alami, soalnya sempat waktu itu dia menangis, tapi aku tak tahu jika mungkin itu adalah bahasa ketakutan Tasya.

Tanpa pikir panjang, atas saran keluarga, aku membawa pakaian Tasya yang ia gunakan waktu itu, aku usap-usapkan di lantai, dinding dan tiang masjid agung, dengan segala keraguan pada awalnya, aku takut aku syirik, aku baca bismilliah sebanyaknya waktu melakukan itu, jangan sampai hatiku berkeyakinan kesembuhan Tasya jalaran (jawa:lantaran) ritual aneh ini, semua atas kehendak Allah.

@@@

Aku kecup kening Tasya, sungguh Allah Maha Kuasa, keadaan Tasya benar-benar membaik, suhu badannya kembali normal, alat bantu pernafasan sudah bisa dilepas, pun Tasya sudah tidak rewel lagi, dia malam itu sudah bisa tidur nyenyak, alhamdulillah. Aku tertawa dalam hatiku, ternyata kadang kita tidak boleh terlalu keras dengan hidup dan dengan kekeh memegang prinsip, sebab bisa jadi sifat kaku itu salah. Aku jadi malu dengan diriku, semua tergantung hati dan bagaimana kita menyikapi, yang jelas apa pun usaha yang kita lakukan, selama itu tidak menyimpang, dan hati tetap seratus perses yakin tak ada yang mampu memberi bekas selain Allah, maka akidah akan tetap terselamatkan.
*Terinspirasi dari My Ustadz Saiful Huda Sina

tags: , , ,

Related For Sawan