Jihad Tanpa Teror, Merubah Pena Menjadi Pedang Peradaban

Friday, May 3rd 2013. | Jejak Utama, Tokoh

Haul Masyayaikh Langitan bertabur bintang. Di area tamu khusus, berjajar kursi-kursi yang diduduki habaib dan ulama. Diantara kursi itu, terdapat kursi besar yang membedakan dengan kursi lainnya. Di atas kursi itu, bersandar ulama penuh kharisma. Janggut memutih dan tanda-tanda senja usia begitu tampak pada raut wajahnya. Namun ketika mendapat waktu berbicara, suaranya lantang dan terkesan jauh dari usianya.

Syaikh Ali Ash-ShabuniBeliau adalah Syaikh Prof Dr Muhammad Ali ash-Shabuni, mufassir kenamaan dari Makkah Mukarramah. Pribadi yang telah dinobatkan sebagai Tokoh Muslim Dunia 2007 versi DIQA. Pakar tafsir yang terkenal dengan kedalaman ilmu serta sifat wara-nya. Lahir dengan nama Muhammad Ali bin Ali bin Jamil ash-Shabuni, bertempat di Madinah pada tahun 1347 H/1930 M. Meski usianya telah melewati 83 kalender tahunan, namun semangatnya luar biasa.

Dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang sangat religi. Ayahnya, Syekh Jamil, merupakan salah seorang ulama senior di Aleppo. Syaikh Ali kecil memperoleh pendidikan dasar dan formal mengenai bahasa Arab, ilmu waris, dan ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan orang tua. Di usianya yang masih belia, Syaikh Ali Ash-Shabuni sudah dapat menghafal al-Quran, sehingga tidak jarang ulama di tempatnya belajar sangat menyukai kepribadiannya.

Diantara guru yang mulia adalah: Syaikh Jamil ash-Shabuni (Ayahanda), Syaikh Muhammad Najib Sirajuddin, Syaikh Ahmad al-Shama, Syaikh Muhammad Said al-Idlibi, Syekh Muhammad Raghib al-Tabbakh, dan Syekh Muhammad Najib Khayatah.

Aktif pada Pendidikan dan Organisasi
Selain belajar kepada sang Ayah, Syaikh Ali ash-Shabuni sering mengikuti pengajian ulama lainnya yang diselenggarakan di berbagai masjid. Setelah menamatkan pendidikan dasar, melanjutkan pendidikan formalnya di sekolah milik pemerintah, Madrasah al-Tijariyyah. Di sini, hanya dalam satu tahun.

Kemudian, meneruskan pendidikan di sekolah khusus syariah, Khasrawiyya, yang berada di Aleppo. Saat bersekolah di Khasrawiyya, tidak hanya mempelajari bidang ilmu-ilmu Islam, tetapi juga mata pelajaran umum. Berhasil menyelesaikan pendidikan di Khasrawiyya dan lulus tahun 1949.

Atas beasiswa dari Departemen Wakaf Suriah, melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar, Mesir, hingga selesai strata satu dari Fakultas Syariah pada tahun 1952. Dua tahun berikutnya, di universitas yang sama, ia memperoleh gelar magister pada konsentrasi peradilan Syariah (Qudha asy-Syariyyah). Studinya di Mesir merupakan beasiswa dari Departemen Wakaf Suria.

Usai dari Mesir, Syaikh Ali ash-Shabuni kembali ke kota kelahirannya, mengajar di berbagai sekolah menengah atas yang ada di Aleppo. Pekerjaan sebagai guru sekolah menengah atas ini ia lakoni selama delapan tahun, dari tahun 1955 hingga 1962. Setelah itu, ia mendapatkan tawaran untuk mengajar di Fakultas Syariah Universitas Umm al-Qura dan Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz. Kedua universitas ini berada di Kota Makkah.

Beliau menghabiskan waktu dengan kesibukannya mengajar di dua perguruan tinggi ini selama 28 tahun. Karena prestasi akademik dan kemampuannya dalam menulis, saat menjadi dosen di Universitas Umm al-Qura, Syaikh ali al-Shabuni pernah menyandang jabatan ketua Fakultas Syariah. Beliau juga dipercaya untuk mengepalai Pusat Kajian Akademik dan Pelestarian Warisan Islam. Hingga kini, tercatat sebagai guru besar Ilmu Tafsir pada Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz.

Disamping sibuk pada bidang pendidikan, Syaikh Ali ash-Shabuni juga aktif dalam organisasi Liga Muslim Dunia. Saat di Liga Muslim Dunia, beliau menjabat sebagai penasihat pada Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai Al-Qur’an dan Sunnah dalam beberapa tahun. Dan kini, juga dipercaya menjadi Ketua Persatuan Ulama Syiria.

Pena sebagai Pedang
Setelah menarik diri dari organisasi, Syaikh Ali ash-Shabuni mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk menulis dan melakukan penelitian. Karya beliau kurang lebih berjumlah empat puluhan dengan berebagai disiplin ilmu. Diantara karya besarnya adalah “Shafwah al-Tafaasir”, salah satu tafsir terbaik di masanya.

Sebagaimana yang disampaikan pada wawancara eksklusif beliau kepada kami di Balai Pertemuan Bupati Kabupaten Tuban, bahwa sehari-hari beliau memang menghabiskan waktu untuk menulis. “Sehari-hari, setelah melakukan majelis ilmu saya langsung kembali menfokuskan diri untuk menulis dan menulis lagi” ungkapnya.

Merespon dinamika sosial-keagamaan bahwa di era sekarang, umat muslim dihadapkan pada klaim negative sebagai teroris. Untuk menjawab itu, maka beliau memberi solusi agar umat islam kembali berjihad dengan pena dan ilmu pengetahuan. Sebab jihad bagi beliau bukanlah mengangkat pedang namun menunjukkan manusia kepada jalan kebenaran. Dan dengan pena serta ilmulah jalan terang itu akan terbuka.

Menurut Mudir Amm Haiah As-Shofwah, KH Ihya Ulumiddin, bahwa Syaikh Ali ash-Shabuni itu ulama yang luar biasa. Daya analisisnya kuat, bahkan hingga kini, beliau tidak perlu lagi membuka referensi untuk menulis karena berpuluh-puluh tahun telah menelaah ribuan referensi tersebut. “Beliau itu layaknya pena yang mengalir (qalam as-sayyal)” tambah pengasuh pesantren Nurul Haramain, Malang itu.

“Kecintaan beliau terhadap menulis juga luar biasa. Pernah suatu ketika beliau dalam kondisi sakit namun gairah menulis masih kuat. Akhirnya, salah satu putra beliau menyembunyikan penanya, karena khawatir sang ulama masih terus menulis sementara kondisi kesehatannya masih belum membaik”.

Kunjungan ke Indonesia
Beberapa waktu lalu, Syaikh Ali ash-Shabuni atas rekomendasi Haiah As-Shofwah, Alumnus Abuya Sayyid Prof Dr Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani dapat melakukan safari dakwah di Indonesia pada beberapa komunitas, diantaranya: pesantren, perguruan tinggi, pihak pemerintah, dan masyarakat umum. Beberapa pesantren yang dikunjungi, diantaranya: Pondok Pesantren Langitan (Tuban), Pondok Pesantren Lirboyo (Kediri), Pondok Pesantren Al-Anwar (Rembang), Pondok Pesantren Darul Lughoh Wad Dakwah Bangil-Pasuruan, dan lain sebagainya.

Untuk perguruan tinggi, beliau singgah di UIN Maliki Malang dan Universitas Tribakti. Bahkan pada universitas yang disebut pertama, beliau secara khusus di minta pihak kampus untuk memberikan nama masjid UIN di Pasca Sarjana. Masjid yang baru rampung pembangunanya di beri nama ’’Masjid Muhammad Ali ash-Shabuni’’. Beliau juga menyempatkan diri sholat berjamaah di Masjid tersebut. Hal ini sebagaimana yang dirilis dari situs resmi Universitas pimpinan Prof Dr Imam Suprayogo itu.

Adapun lawatan kepada pihak pemerintah, beliau diterima langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di istana Bogor. Sebagaimana yang dirilis situs resmi Negara, Antara.com, bahwa Syekh Ali ash-Shabuni saat diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Bogor, Senin pagi, mengatakan langkah pemerintah yang sudah dicapai hendaknya terus dilakukan untuk kemaslahatan umat. Beliau menyatakan memiliki harapan Indonesia bisa lebih maju, tentunya dalam konteks harapan bagi umat Islam, secara luas masyarakat Indonesia.
Sementara itu, kata Faizasyah, Staff Presiden Hubungan Luar Negeri, Presiden Yudhoyono juga menyampaikan apresiasi dan menyambut pemikiran komunitas Islam secara luas. Presiden akan terus memajukan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan memajukan pendidikan. Dalam kesempatan itu pula Presiden Yudhoyono juga menyampaikan keprihatinan atas situasi krisis politik yang masih terjadi di Suriah dan menyampaikan langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh Indonesia.

Muhammad Hasyim
Muhammad Shaleh, Ahmad Athaillah (Malang)
Mahbub Junaidi, Khoirul Anam, Adi AD (Tuban)

Cuplikan

“Di usianya yang masih belia, Syaikh Ali Ash-Shabuni sudah dapat menghafal al-Quran, sehingga tidak jarang ulama di tempatnya belajar sangat menyukai kepribadiannya.”

Saat di Liga Muslim Dunia, beliau menjabat sebagai penasihat pada Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai Al-Qur’an dan Sunnah dalam beberapa tahun. Dan kini, juga dipercaya menjadi Ketua Persatuan Ulama Syiria.

“Pernah suatu ketika beliau dalam kondisi sakit namun gairah menulis masih kuat. Akhirnya, salah satu putra beliau menyembunyikan penanya, karena khawatir sang ulama masih terus menulis sementara kondisi kesehatannya masih belum membaik”.

tags: , , ,

Related For Jihad Tanpa Teror, Merubah Pena Menjadi Pedang Peradaban